Sabtu, 20 Agustus 2016

Berbagai kasus......




Kasus pribadi.

  

Kadang menceriterakan penyakit sendiri terasa malu. Tapi bila kisah ini bermanfaat untuk orang lain, siapa tahu bisa lebih mencerahkan kehidupan. Paling singkat, tentunya gambar ini cukup memberikan alasan, mengapa saya begitu “terpesona” oleh manfaat Kefir untuk kesehatan.
Berfoto dengan murid dan mantan murid setelah 30 tahun.

Ambeien/wasir.

Akibat cara “ngeden” yang salah pada saat BAB dan konsumsi antibiotika yang membunuh semua mikroflora usus, maka tinja menjadi keras dan BAB tidak lancar, kemudian jadilah ambeien, sampai ada bagian otot yang keluar saat BAB, dan bila selesai BAB harus ditekan masuk kembali. Mestinya dioperasi, tapi enggan karena malu. Kemana-mana selalu bawa obat wasir dan menggunakan ‘anusol’. Setelah BAB lancar karena minum Kefir, mungkin  setelah tiga-empat tahun, bagian yang selalu keluar ini lepas dengan sendirinya dan semuanya sekarang lancar-lancar saja.





Saya bersama Pak Iwa yang sepuluh tahun lebih muda, ketika mengunjungi rumah Kefir.

 

Batu ginjal.

Dimulai dengan pinggang yang selalu pegal. Setelah sekitar 4 – 5 tahun minum Kefir, suatu hari air seni berdarah, dan ada batu kecil keluar. Ternyata masih ada beberapa serpihan lagi. Selama beberapa bulan berikutnya, minum Kefir diintensifkan dan juga minum ‘Batugin Elixir’. Dalam 3 – 4 bulan kemudian keluar lagi beberapa batu kecil melalui air seni, dan setelahnya tidak ada masalah lagi.

 

Gout/kelebihan asam urat.

Akibat makan yang tidak dijaga, kasus bengkak sendi kaki ini sering terjadi, sampai pernah terkurung di lantai 2 tempat kontrakan di Jakarta karena tidak bisa pulang dan tidak kuat turun tangga. Bila asam urat di atas 8 (mg/dl), bengkak muncul, dan sakitnya sangat ‘mantap’, sampai panas dingin. Sebelum minum Kefir, penyakit ini datang tiba-tiba dan dengan minum obat dokter, baru reda setelah 4 - 7 hari. Itupun dibantu diet yang super ketat.
Setelah minum Kefir, pada angka 12 bengkak tidak terjadi, dan mulai terasa gejala gatal/agak sakit bila melewati 13. Bila ini terjadi, tambah porsi minum Kefir, yang biasanya sehari segelas menjadi dua sampai 3 gelas. Kadang dibantu satu tablet allopurinol 100 mg, setiap minum Kefir, dan dalam 2 hari saja rasa tidak nyaman pada sendi sudah hilang, tanpa sempat bengkak.
Jadi untuk gout ini, sebelum minum Kefir, bengkak datang sangat cepat, tapi lenyapnya lambat. Setelah minum Kefir, datangnya lambat, dimulai semacam “peringatan dini” tapi lenyapnya cepat. Saat ini angka asam urat saya sekitar 11, dan ini masih belum mengganggu. Tapi kalau tanya ke dokter, tentu saja dianggap sangat tinggi. Bahkan seorang keponakan saya yang juga rajin minum Kefir, asam uratnya 15, dan tidak ada keluhan.
Perlu dicatat bahwa asam urat ini adalah anti oksidan (juga anti kanker) yang sangat kuat. Ini memberi tambahan pada daya tahan tubuh untuk tidak mudah terkena infeksi. Jadi, dengan Kefir, manfaat asam urat menjadi maksimal, sementara gangguan akibat terjadinya kristal asam urat yang menyebabkan bengkak tidak terjadi.

 

Bisa mandi air dingin.

Memang memalukan. Sejak kecil, sampai usia menjelang 50 tahun, tiap hari selalu mandi dengan air hangat. Bila mandi dengan air dingin, langsung selesma.
Satu hari, ketika harus pergi ke Jakarta dengan kereta api subuh, ternyata pemanas air di kamar mandi rusak, padahal waktu sudah mepet. Tapi badan rasanya tidak nyaman bila tidak mandi (Sunda : keunang). Terpaksalah mandi air dingin, dan tergesa-gesa ke setasiun. Heran, ternyata badan terasa segar sampai sorenya pulang lagi, dan kembali mandi air dingin.
Sejak saat itu, sudah lima belas tahun, pemanas air di kamar mandi tidak dibetulkan. Kalaupun suatu ketika perlu mandi dengan air hangat, ya rebus air saja. Inipun hanya terjadi dua atau tiga kali saja selama 15 tahun itu. Sekarang, mandi jam 10 malampun dengan air dingin, tidak masalah. Tapi kalau menginap di hotel, kemanjaan yang dominan, lalu berendam lagi dengan air hangat.

 

Maag.

Penyakit ini ringan, tapi bisa sangat menjengkelkan. Pertengahan tahun 1980-an pernah beberapa kali berhenti di jalan dengan rasa sakit seperti ingin buang air besar, tapi tidak ada yang keluar. Pernah seharian terpaksa tidur atau duduk merongkol karena tidak kuat tegak akibat maag. Berbagai obat pernah dicoba, termasuk bawang merah, coca-cola dan antacid yang cuma menyisakan batu ginjal. Tentu saja itu kisah lama, yang setelah setahun saja mengonsumsi Kefir, tidak pernah terjadi lagi.

 

Hiperkolesterol.

Kolesterol pernah di atas 400, dan trigliserida di atas 1000 !!. Sampai secara bergurau saya mengatakan : “Terlalu banyak air dalam saluran lemak saya...”
Mantan murid saya yang bekerja di Laboratorium Prodia sampai berucap “Amit-amit..”.
Punggung dan leher pernah terasa begitu kaku, lalu dipijat oleh seorang tukang pijat/sinshe(?) di seputaran Jl. Gunung Batu, Bandung, dengan diinjak-injak sampai lecet-lecet  dan meriang.
Sekarang, kolesterol berada pada kisaran 200 saja, dan dengan sedikit olahraga, langsung berada pada kisaran 160 – 180.

 

Makan seperti anak SD kelas 2.

Atas rekomendasi teman, satu hari saya makan sop buntut di warung Jl, Sukabumi, enak dan murah. Saya minta nasi setengah porsi saja, tapi itupun saya lihat masih terlalu banyak dan minta dikurangi lagi. Pelayan warung sampai berkata : “Anak saya yang kelas 2 SD saja tidak akan kenyang...”. Ternyata sopnya juga cuma habis setengahya.
Tapi berat badan sulit turun. Selama lebih 10 tahun ini stabil pada kisaran 80 – 82 kg, padahal cita-citanya 73 kg (tinggi 170 cm).

 

Lebih bugar bila olahraga.

Tentu saja, olahraga adalah hal yang tidak tergantikan. Bila sibuk, dan ini bisa cukup lama, “olahraga”nya hanya membungkuk 17 kali sehari dan menyentuhkan dahi ke lantai 34 kali sehari. Inipun sudah terasa sekali memberikan kesegaran pada tubuh.
Masih bekerja 4 – 8 jam di depan komputer. Alhamdulillah masih terasa nyaman, tapi tentu saja rindu untuk setidaknya “ngagoes” lagi.

 

Hepatitis.

Sebenarnya isteri saya yang terkena Hepatitis B. Saat itu belum kenal Kefir, dan tentu saja saya juga terkena. Namun kebetulan kondisi saya masih kuat, sehingga walaupun sempat hasil laboratorium menunjukkan positif Hepatitis, dan urin juga berwarna coklat (dari bilirubin), namun bisa sembuh dengan cara meningkatkan kualitas makanan secara maksimal. Setelah rutin minum Kefir, gejala Hepatitis sekecil apapun tidak pernah mampir lagi.

 

Migren.

Dulu, sedikit saja kena hujan (justru kalau hujannya sedikit/kena gerimis) kepala langsung berdenyut-denyut. Juga kalau terlambat makan. Mulanya masih menggunakan analgesik, terutama aspirin.
Sekarang kalau kehujanan tidak apa-apa. Tapi kalau terlambat makan, kadang-kadang masih suka agak pusing juga.
Tapi tidak perlu minum obat. Minum saja segelas Kefir, ngantuk, tidur dan segar kembali....
Itu pengalaman pribadi di awal konsumsi Kefir. Masih ada kisah lain sesudah lama mengonsumsi Kefir, untuk ceritera pada bab berikutnya.

 

Kasus Herpes.

Sekitar bulan Juni 2004, saya bertemu dengan pasangan suami isteri yang sedang kebingungan. Isterinya hamil 7 bulan dan menderita Herpes Zooster. Saat itu mereka baru keluar dari praktek dokter di sekitar Cimareme Bandung, memegang selembar resep untuk 30 tablet obat Herpes (obat anti virus?) seharga kurang lebih Rp 750.000,- Itupun di apotik belum tersedia dan harus pesan, bayar dulu besoknya obat baru bisa diambil.
Kebetulan beberapa hari sebelumnya dari internet saya membaca tentang pengobatan herpes dengan Kefir, termasuk resep untuk obat luar (dioleskan) dan untuk diminum. Mendengar obrolannya, saya memberanikan diri mendekat dan saya ceriterakan tentang Kefir. Pada saat ngobrol itu, kebetulan seorang teman datang, dan ternyata mereka kerabat (tetangga) dari teman saya itu, sehingga mendorong untuk menerima tawaran saya. Malam itu juga saya bawakan Kefir ke rumahnya, berikut penjelasan mengenai penggunaannya.
Dalam tiga hari, luka bernanahnya kering, dan dalam waktu seminggu sudah bersih. Minum Kefir diteruskan sampai 2 minggu berikutnya.
Peristiwa ini sempat membuat saya beberapa malam tidak bisa tidur, maklumlah bukti nyata belum ada.
Alhamdulillah, tidak pernah kambuh, dan putrinya lahir sehat. Padahal umumnya kalau sudah terkena herpes seperti itu, konon bertahun-tahun setelahnya asal kena dingin saja, suka muncul rasa ngilu, dan bila kondisi badan buruk, bisa kambuh.

 

Kasus Pencernaan

 

Maag.

Seorang dokter gigi teman sejawat isteri saya, setelah mendengar tentang khasiat Kefir untuk mengatasi masalah pencernaan, sekitar 2005, datang ke Rumah Kefir. Beliau ini sudah empat kali harus diopname akibat maag ini. Tentu saja sebagai seorang ahli kesehatan, tidak sembarang mau menggunakan “obat” yang tidak jelas, apalagi selalu saya tekankan bahwa Kefir bukan obat, walaupun khasiatnya seringkali melebihi obat.
Untungnya, sekarang hampir segala jenis keilmuan teoritis mudah ditemukan di berbagai situs di internet. Dari situlah bahan saya untuk menjelaskan. (Ini akan diuraikan secara mendalam pada Jilid 2). Dokter Gigi ini kemudian pulang dengan membawa beberapa botol Kefir.
Hanya berselang seminggu, sudah memesan lagi, dan menyatakan gembira bahwa pencernaannya sudah baik. Sampai sekitar setahun, beliau turut mempromosikan Kefir untuk para sahabat, kerabat dan pasiennya.
Dalam seminggu, pernah sampai membeli satu box (20 liter) Kefir. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, saya tidak mendengar beritanya lagi. Biasanya karena sudah membuat sendiri, atau terkena syndrome “Kefir itu obat”, sehingga setelah sembuh lalu berhenti.

 

Sembelit.

 Pak Hertono bersama dengan peserta Sarasehan Kefir, Pebruari 2013.

 

Ini dialami oleh seorang Apoteker Senior, pensiunan BPOM Provinsi Jawa Barat yang sering mengalami masalah sembelit (konsti-pasi). Bila terjadi, sampai-sampai harus diopname di rumah-sakit barang sehari. Penanganannya sampai memasukkan cairan ke (maaf) lubang anusnya. Menderita, dan tentu saja mahal.
Berdasarkan informasi dari internet, beliau membeli dan mengonsumsi Kefir. Hanya dalam 3 hari, semuanya lancar. Sejak itu, sudah lebih dari 3 tahun, tidak pernah lagi mengalami sembelit, bahkan beliau menyatakan bahwa staminanya, baik siang maupun “malam” meningkat signifikan.
Sekarang pak Hertono ini menjadi salah satu andalan bagi pengembangan Kefir melalui KKI dan AKSI, sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan.

 

Kasus Diabetes 1

Pertama kali menangani penderita diabetes adalah pada seorang sahabat, teman kuliah satu angkatan di bawah saya. Beliau juga dosen di satu Universitas Swasta di Bandung. Ketika terbetik berita bahwa teman ini sudah beberapa bulan tidak mengajar karena menderita diabetes, saya lalu datang ke rumahnya untuk menengok.
Setelah mengetuk pintu, dia sendiri yang membukakan pintu. Sambil “melihat” kepada saya, dia berkata : ”Ini siapa ya? Mau ketemu siapa?”.
Kaget saya menjawab “Waduh, masa kamu lupa sama saya...?”.
Mendengar suara saya, dia langsung berkata “Oh.. Andang, ayo masuk...”.
Memang diabetes bisa merambat kemana-mana. Untuk teman ini yang kena duluan adalah matanya. Saya bawakan Kefir, untuk diminum tiga kali sehari, dan saya jaga agar pasokannya tidak terhenti.
Tiga bulan kemudian, bulan Juli 2004, dia datang mengendarai mobil sendiri ke Rumah Kefir. Kemudian menulis testimoni di Harian Pikiran Rakyat pada sekitar Nopember 2004.

 

Kasus Diabetes 2

 


Ini testimoni Bapak Hajar Pahlawi, Pangkalpinang.
Tahun 1997 saya divonis dokter sakit diabetes dan kadar gula darah pernah mencapai angka 660. Dan pada bulan Mei 2004 saya harus menjalani operasi penyedotan nanah dan darah akibat dari penyakit diabetes ini. Berat badan anjlok drastis dari 70 kg turun menjadi 50 kg. Pasca operasi, saya diharuskan dokter untuk selalu menyuntikkan insulin sehari 3x, karena kata dokter fungsi pankreas saya tinggal 5%.
Bila saya tidak menyuntikkan insulin, maka badan terasa lemas, gemetar dan banyak makan (terasa lapar terus). Kadar gula darah sedikit turun menjadi 480.
Hal ini sedikit banyak mengganggu aktifitas saya sebagai seorang guru matematika di salah satu SMP Negeri di Pangkal Pinang.
Belum lagi biaya untuk membeli obat insulin cukup memberatkan yaitu hingga mencapai Rp 2.000.000/ bulan. Hal ini saya alami selama kurang lebih  6 tahun (non stop menyuntik insulin).
Hingga pada bulan Juni 2010 saya mengetahui info tentang Kefir dan segera memulai konsumsi secara rutin 2x sehari. 3 bulan setelah mengonsumsi kefir, saya masih menyuntik insulin hanya dosisnya sudah mulai berkurang. Setelah berkonsultasi dengan pembuat/ penjual kefir di Bandung, maka pada bulan Juli 2011 saya memberanikan diri untuk menghentikan suntik insulin dan hanya rutin mengonsumsi kefir saja 2x sehari (tanpa obat lain). Dan alhamdulillah, ternyata saya bisa terlepas dari ketergantungan insulin berkat rajin minum Kefir.
Pak Hajar Pahlawi ketika berkunjung ke Rumah Kefir setelah terbebas dari suntikan insulin.
Secara medis, dokter menyatakan bahwa saya akan selalu tergantung dengan insulin seumur hidup. Namun kenyataan berbicara lain, saya terbebas dari insulin dan kondisi saya saat ini lebih segar & sehat.
Buat para penderita diabetes, tak perlu berkecil hati dengan vonis dokter yang mengatakan bahwa diabetes tidak dapat disembuhkan. Saya sangat menyarankan untuk mencoba produk Kefir, karena saya sendiri sudah membuktikan dan merasakan manfaat kefir yang luar biasa. Kesaksian ini saya sampaikan dengan sebenar-benarnya dan agar berguna bagi sesama. 
Catatan : Pak Hajar ini membuat Kefir sendiri, berupa Kefir Optima dengan menggunakan bibit praktis/Kefir Prima sekali pakai. Susunya diperoleh dari peternakan sapi perah di Pangkal Pinang.

 

Keracunan Steroid.

Ini peristiwa tahun 2003. Saya punya seorang bibi (usia 70 tahun) yang menderita keracunan steroid yang dari obat rematik. Badannya bengkak karena air yang tidak tertumpuk di badan, beratnya bertambah dari sekitar 80 kg menjadi sekitar 100 kg. Kulitnya rapuh, kalau digaruk langsung terkelupas. Makanpun harus sangat berhati-hati. Keliru menu sedikit saja langsung diare. Saya coba kirimkan Kefir beberapa kali, tapi beliau tidak mau meminumnya, karena rasanya yang asam. Dokter melarang minum yang asam.
Kebetulan menantunya adalah seorang apoteker, yang dari literatur mengetahui bahwa Kefir baik untuk kesehatan. Kefir yang saya kirimkan diminum olehnya. Terasa bahwa kesehatannya membaik, termasuk gejala rematik yang dirasakannya juga hilang. Akhirnya dengan sabar membujuk agar mertuanya ini minum Kefir juga, dan berhasil. Menantunya ini yang kemudian selalu pesan Kefir.
Dalam tiga bulan, berat badannya kembali ke “normal”, turun sekitar 20 kg. Beberapa waktu kemudian, ketika saya berkunjung, bibi ini tengah makan karedok dan goreng jambal roti. Makanan kesukaan yang sama sekali tidak bisa dimakan saat masih keracunan. Balas dendam rupanya.
Sampai saat ini masih rutin mengonsumsi Kefir...

 

Kasus Batu Ginjal

Ini posting dari seorang warga Komunitas Kefir Indonesia di Facebook.
 
Bulan berikutnya bu Elia ini memposting lagi kasusnya.


 

 

 

 

Kasus Chikungunya.

Dede Qikan pada acara Sarasehan Kefir Indonesia 1, 23 Feb. 2013 di Cafe d'Preneur tengah menceriterakan bagaimana ibunya yang lebih 2 minggu menderita Chikungunya dan dokter sudah menyerah karena obat maupun makanan tidak ada yang bisa masuk. Kondisinya sangat memprihatinkan sehingga banyak pelayat yang bersalamanpun sudah takut
Karena takut untuk dibawa ke Rumah Sakit akhirnya "dipaksa" untuk minum Kefir, walaupun pada awalnya sering dimuntahkan kembali.
 Alhamdulillah, dalam 4 hari kondisinya sudah sangat membaik, bisa makan normal. Dalam seminggu, sebagai Ketua Pengajian ibu-ibu setempat, beliau sudah bisa ikut pengajian lagi. Jamaah sungguh merasa kaget atas kehadirannya yang begitu cepat.
Sang ibu yang tadinya anti minum susu dan Kefir, padahal Dede Qikan ini sudah 5 tahun bekerja di Rumah Kefir dan berkali-kali membujuk supaya mau minum Kefir, selalu ditolak, sekarang menjadi rajin minum Kefir, dan kondisinya jauh lebih baik dari sebelum sakit.

Kasus Hepatitis.

Adik seorang pelanggan Kefir menderita Hepatitis, dan berobat ke dokter yang dikenal sebagai “ahli hepatitis”. Seminggu sekitar Rp 1,- juta yang dikeluarkan untuk biaya lab, obat dan dokter. Setelah berjalan 3 bulan, bertanya kepada dokternya, kapan bisa sembuh? Dokter menjelaskan bahwa masih diperlukan antara 6 bulan sampai se tahun sampai pulih.
Kenangan dengan pak Agus (berbatik menghadap kamera), tuan rumah Deklarasi KKI/AKSI 14 September 2011
Pelanggan ini kemudian memberikan Kefir kepada adiknya itu, dan dikonsumsi sehari dua sampai tiga kali. Dalam 2 bulan, pemeriksaan lab menunjukkan kondisinya sudah normal. Sayangnya, setelah sembuh, berhenti minum Kefir, walaupun sekarang sudah berjalan lebih dari 4 tahun dan tidak kambuh.
Pak Agus mengisahkan ini pada acara Deklarasi AKSI/KKI pada 14 September 2011 di Rumah Makan Setuju Utama yang dikelolanya.

Kasus Fistel Ferianal

Testimoni ini dipetik dari komen seorang anggota KKI di Facebook.

 

Rematik & gangguan jantung.

Ayah seorang sahabat telah berulang kali dirawat di RS Rajawali Bandung tahun 2002 usia sekitar 75 tahun). Menurut dokter D, terjadi gangguan jantung disamping rematik.  Pada saat bangun tidur, perlu setengah jam untuk bisa bangkit. Untuk bisa bertopang kaki, harus dibantu tangan memindahkan kaki agar bisa bertopang pada kaki satunya. Denyut jantung meningkat sampai di atas 150 kali semenit, seperti orang yang sedang lari marathon. Uniknya, tidak merasakan gejala apa-apa selain tidak bisa tidur saja. Menurut dokter, ini lebih berbahaya, karena sistem “peringatan dini” berupa rasa sakit tidak bekerja.
Setelah kondisinya dianggap stabil, diizinkan pulang dari rumah sakit. Sebelum pulang, beliau bertanya, boleh tidak kalau bepergian. “Kemana?” tanya dokternya.
“Ya misalnya ke Cimahi, ada besan disana..” (Rumahnya seputaran Jl. Pajajaran Bandung). “Kalau ke Cianjur?”  (disana juga ada kerabat beliau). Dengan ketus dokter D ini menjawab : “Ya.., kalau tidak mau pulang lagi boleh saja....”.
Sepulangnya dari rumah sakit, beliau atas anjuran putranya yang sudah menjadi langganan Kefir lalu rutin minum Kefir. Beberapa bulan kemudian rematiknya nyaris sembuh sempurna, sehingga untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun bisa antri mengambil sendiri uang pensiunnya di KPN.
Beberapa waktu kemudian beliau berencana menengok anak dan menantunya yang baru pindah ke Medan karena promosi jabatan di instansi tempat kerjanya. Untuk amannya, beliau datang ke dokter untuk periksa kesehatannya dan “minta izin” untuk pergi ke Medan dengan pesawat dari Jakarta. Dokter D mengatakan “Tidak ada masalah, silakan ...”.

 

Motivasi makin bertambah.

Kasus-kasus lain, selama lebih sepuluh tahun memasyarakatkan Kefir masih banyak. Hal ini menambah motivasi untuk terus menyebarkan Kefir untuk menyehatkan semua orang, khususnya kerabat, sahabat dan kalau bisa seluruh bangsa Indonesia..

Tidak ada komentar: